Cerita Ngentot Memek Perawanku Digoyang Penis Dukun Cabul

Memek Perawan Ketagihan Ngewe Penis Dukun Cabul Sampai Crot

Posted on

Cerita Ngentot Memek Perawanku Digoyang Penis Dukun Cabul, Dukun Mesum remas Toket, Bokep dukun mesum ngewe, Cerita Sange Penis dukun ngaceng Entot Perawan

Cerita Ngentot Memek Perawanku Digoyang Penis Dukun Cabul

Penis Ngaceng Genjot Memek Crot –  “Riska, aku dengar, di daerah dusun luar kota ada orang pinter yang hebat kamu, kamu coba saja ke sana, mungkin dia dapat bantu” begitu kata Lia teman kAndirku. Aku menatapnya dan berkata “sekarang sudah zaman komputer, masa sih kamu suruh aku percaya, sama dukun?” kataKu dengan arogan.

WarungMesum

“loh, apa salahnya di coba, apa kamu mau sendiri terus, Ki Bejo itu dukun hebat, sudah banyak yang berhasil” kata Lia lagi.
Aku diam, pikiranku menerawang jauh, memang aku tidak penah mau jadi perawan tua, umurku sudah 30 tahun, tapi tidak ada seorang cowokku yang tertarik padaKu. Padahal, aku tidak jelek. wajahku ayu, kulitku putih. Latar belakang pendidikanKu juga tidak jelek, dengan S1 ekonomi. Aku juga dari keluarga baik baik, dengan ekonomi cukup mapan.

“eh koq melamun sih” kata Lia lagi. “ah tidak koq, aku lagi mikirin, kerjaan, besok bos mau rapat” kataku asal jawab. “ah, kamu, kerjaan terus, kamu mesti pikirin juga diri kamu dong, lihat aku, umur aku lebih muda dari kamu, anak aku udah dua, kapan kamu mau punya anak, Riska, Riska…” kata Lia yang terus nyerocos kaya senapan mesin.

Aku masih diam, mendengar nasehat teman baikku ini. “Sudah deh, kamu coba konsultasi ama Ki Bejo, nih alamatnya” kata Lia lalu menyebutkan alamat Ki Bejo. Aku pura pura, cuek, tapi otakku ingat seluruh ucapannya.

“Riska, jika mau, aku akan temanin kamu pergi ke sana” kata Lia lagi. “Sudah deh, Lia, aku tidak percaya sama bergituan” , kataKu. Lia menghela nafas, “yah, sudah deh, tapi jika kamu berubah pikiran kamu bilang aja yah.

Saat itu, lewat Andi, Teman kAndirku juga, dia menjabat kepala mekanik. Dia seumuran dengan ku, dia juga lajang dan wajahnya tampan. Aku sudah berkali kali menarik perhatiannya, tapi dia tampaknya cuek padaKu.

“Hai, Lia, gimana kabarnya anakmu” katanya menyapa Lia. “he he baik baik, anak kamu gimana” kata Lia. “ah kamu, lagi aku design “jawab Andi bercanda.
Andi berlalu, begitu saja di depanku, seakan akan aku tidak ada di situ. Ada rasa kesal di hatiku. Memang benar kata Lia, aku harus mencoba, kesaktian Ki Bejo, tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Hari jum’at, malamnya sepulang dari kAndir aku melarikan mobilku, memasuki jalan tol dan melaju kencang. Sambil mendengarkan lagu lagu romantis, mobilku melaju cepat. Sampai bertemu pintu keluar, yand di sebutkan Lia.

Mobilku terus berjalan, dan jalan di perkampungan itu agak rusak. Jalan tidak beraspal, penuh debu, dan kerikil. Aku sampai kesasar, dan bertanya tanya orang. Sampai orang terakhir “pak, numpang tanya, rumah Ki Bejo di mana yah?”.

“oh, Ki Bejo dukun sakti itu yah” katanya. Aku mengangguk, wah mungkin Ki Bejo ini benar benar sakti pikirKu. “itu, ibu lurus saja, nanti lihat rumah catnya hijau putih, nah itu rumahnya” kata orang itu.
Setelah mengucapakan terima kasih mobilku terus melaju pelan, sampai bertemu rumah berciri sama dengan yang di ucapkan orang itu. Aku memarkirkan mobilKu. Memasuki terus rumah, itu dan mengetuk pintu.
“yah, ada apa bu” kata seorang lelaki muda,berumur tidak lebih dari 17 tahun. “anu dik, Ki Bejo ada?” tanyaKu. “oh, ada tunggu yah, silakan duduk dulu, saya panggilkan bapak” kata anak muda itu, sambil mempersilakan saya duduk.

Mataku melihat sekeliling ruang tamu itu, rumah itu tergolong mewah untuk ukuran kampung. tidak lama munculah lelaki tua berumur sekitar 60 tahunan. Tubuhnya masih tampak kuat. Hanya rambutnya sebagian sudah memutih. Kulitnya hitam legam.

Wajah orang itu agak menyeramkan, lebih cocok menjadi preman di banding dukun. Jari jari yang besar, di penuhi cin-cin dengan batu berwarna warni.

“selamat malam, ada yang dapat saya bantu” katanya. Aku masih agak shock melihat penampilan dirinya. “eh, anu pak.. anu “kataku terbata. Ki Bejo tersenyum.

Anak muda itu kembali keluar dengan membawa, segelas air “silakan bu” katanya. Aku melihat anak muda. “ini anak saya,” kata Ki Bejo. Anak itu segera masuk kembali. Aku melihat perbedaan yang nyata, anak itu ganteng, dan kulitnya putih, koq bapaknya seperti ini yah pikirKu.

Setelah berbasi basi, dan tampaknya Ki Bejo jauh lebih ramah, di banding penampilannya, Aku lalu mengutarakan maksud kedatanganKu. “oh, masalah itu, itu masalah muda, aya kita ke kamar praktekKu” kata Ki Bejo.

Aku mengikuti dia, masuk ke sebuah kamar, berukuran cukup luas. Ki Bejo duduk bersila di hadapannya ada meja, yang di atasnya terletak baskom berisi bunga bungaan. Ada anglo, dengan arang yang membara, Ada kasur, dengan alas putih di situ serta beberapa keris dan berbagai pernak pernik perdukunan, yang terlihat berbau mistik.

Tangan Ki Bejo mengambil menyan, segemgam menyan itu di taruh di atas arang yang membara, asap mengepul dengan bau menyegat, memenuhi ruang itu. Kepalaku tersa berkunang, kunang. Dan mulut Ki Bejo berkomat kamit.

“jodoh kamu ada, cuma tertutup, sinar aura kamu gelap” kata Ki Bejo. Aku hanya mengangguk. “jika kamu mau Aku dapat menolong kamu, dan aku jamin berhasil” kata Ki Bejo lagi. Aku tersenyum “saya mau Ki, tolong saya”.

“Baik, sekarang, lepaskan baju kamu” kata Ki Bejo. Aku kaget mendengar kata kata Ki Bejo. Naluriku langsung berkata tidak, tapi tanganku mulai mengangkat kaos T-shirtKu. Dan aku perlahan membuka celana jeansku. Kini aku berdiri dengan hanya memakai Bra dan celana dalam saja. Mata Ki Bejo menatap liar tubuhKu Dia menghampiriku. Mulutnya berkomat kamit, tangannya bergerak gerak, aneh sepeti menari di depanKu.

“coba, lepas BH kamu “perintah Ki Bejo. Saat itu tanganku segera melepas kait BH kream Ku tanpa berpikir. Mata Ki Bejo, seperti melahap buah dadaku yang mengantung terbuka. Tangannya segera meraba buah dadaKu. Mulutnya masih terus berkomat kamit, dengan bahasa yang sama sekali aku tidak mengerti.

Yang saat ini Aku rasakan ada desakan kuat di rahimKu. Aku merasa vaginaKu mulai bereaksi, aku terangsang. Tangan tangan Ki Bejo terus meraba raba buah dadaKu. Dia meremas, dan memainkan putting susuku. Putting susuku pun menerima perlakuan ini dan agak menegang.

Dan tiba tiba, jarinya menekan selangkangan celana dalamKu. “aghhhh “jeritku. Aku semakin terhanyut, dalam birahi yang di berikan Ki Bejo.

Ki Bejo kemudian membaringkan ku di kasur, di ruang itu. Aku benar benar kehilangan pikiran jernihku, Entah kenapa aku menurut saja. “sekarang, kamu bayangkan lelaki yang kau inginkan” kata Ki Bejo.

Setelah berbaring, Ki Bejo dengan nafsu sekali melumat bibirku. Dia menciumku dengan penuh nafsu. Lidahnya juga terus berusaha masuk ke mulutku. Berputar di sana, menyentuh langit langit mulutKu. Mengelitik, dan memberiku rangsangan yang hebat.

Lidahnya juga menjilati leher, kuping dan pipiku. Ada rasa jijik, tapi Aku tidak dapat menolak, Aku hanya memejamkan mata, membayangkan jika Andi yang melakuan ini semua pada diriku.

Lidah lidah Ki Bejo terus turun hingga ke buah dadaKu. menjilati putting susuKu yang semakin mengeras, dan menyedotnya dengan lembut, membuat aku makin terlena. Vaginaku rasanya terus berdenyut, dan lendir nafsuku mengalir deras membasahi celana dalam creamku.

Sambil terus menyusu, Ki Bejo juga memainkan selangkangan celana dalamKu. Aku menjadi begitu hot. “asss, ohh Ki, Ki Bejo, saya tidak tahan Ki” kataKu.

Aku benar benar terangsang, seumur hidupku, aku baru kali ini merasakan, hal ini. Memang terkadang aku melakuan masturbasi, jika birahiku meninggi, tapi rasanya tidak seperti ini. Rasa nikmat ini benar benar membuatku gila.

Dan Ki Bejo terus saja, memainkan buah dadaKU, dan selangkangan celana dalamKu. Pemainannya ini terus membawaku ke puncak kenikmatanKu. Aku benar benar tidak tahan lagi, Aku menjerit penuh kenikmatan, tubuhku bergetar hebat. “Ki Bejo, ahh saya tidak tahan …”.

Ki Bejo diam sebentar, menatap tubuhku yang bergetar, menikmati orgasmeku. Kemudian, yang kulihat, Ki Bejo sudah berbugil ria. Tongkat saktinya bergatung bebas, membuatku bergidik. Penisnya besar, hitam. “ayo, buka mulut kamu” katanya sambil mendekatkan penisnya ke wajahKu.

Aku seperti di sirep, mulutku terbuka lebar, dan penis itu bermain di dalam mulutku. Ki Bejo, memegang kepalaKu, membelai rambutku yang hitam, dan sebahu, yang selalu aku rawat dengan baik.

Penisnya terus begerak dalam mulutku. Entah kenapa, aku sangat menikmatinya. Tanpa di suruh, aku melakukan gerak seperti di filem filem porno. Ki Bejo juga sangat menikmatinya. Dia mengeram, kenikmatan.

Penisnya terus bergerak maju dan mundur, Aku sediri, dengan nasfu menyedot nyedot kepala penisnya. “ohhh … “dan sperma Ki Bejo memenuhi mulutku. “cepat, telan p-e-j-u Ku, jangan di buang, itu obat” kata Ki Bejo.

Aku menelan spermanya, yang berbau anyir, dan membuatku ingin muntah.

Ki Bejo lalu dengan tenangnya melepas celana dalamku, melebarkan kakiKu, menatap liar pangkal pahaku. Bukit kemaluanku yang berbulu, itu jadi santapan matanya. Jarinya kemudian, bergerak memaikan klitorisku. Aku kembali mendesah. Rasa gatel dan nikmat, kembali menyerang klitorisKu.

Sementara itu dia juga memainkan batang penisnya yang sudah mulai membesar kembali

Dan penis itu mulai mendekat ke vaginaKu. Hatiku menjerit, menolak perlakuan itu. Tapi tubuhku bagai patung, diam saja, tak protes. Perlahan ujung penisnya mulai membuka liang vaginaku yang perawan itu.

Lendir lendir nikmat yang membasahi liang vaginaku memudahkan usahanya. Penis itu bergerak masuk, membuatKu merasa pedih. Dan terus mendesak masuk “sakit, sakit”. Jeritku pelan.

Tanpa peduli, Ki Bejo merobek selaput darahKu. Dia terus bergerak, maju dan mundur Penis besarnya mengisi ruang ruang dalam liang sagamaKu. Rasa perih dan sakit mendera vaginaKu. Aku mengigit bibirku menahan sakit di vaginaKu.

Tanpa peduli keadaanku yang mengerang kesakitan Ki Bejo terus mengoyang tubuhKu. Sebentar kemudian dia mencabut penisnya tubuhku di baliknya, pinggulku di angkatnya Dari belakang, penis itu memasuki tubuhKu. Dan Aku merakan sakit kembali mendera vaginaKu.

Dengan posisi ini aku merasakan penis Ki Bejo semakin besar. Melesak dalam liang vaginaku, bergerak keluar masuk dengan cepat.

Ki Bejo dengan penuh nafsu terus merodok vaginaKu. Dia mendengus seperti banteng yang siap menanduk mangsanya. Terus begerak, membuat tubuhku semakin mengerang

Hampir 15 menit kemudian, setelah peluh membasahi tubuhnya Ki Bejo mengerang. Aku merasakan cairan spermanya tumpah ruah dalam rahimku.

Aku tersungkur, terbaring tengkurap di kasur itu. Aku lemas sekali. Di sprei berwarna putih tampak jelas, noda merah, darah perawanku. Air mataku menitik, bathinku menangis. Kesucianku yang ku jaga selama ini telah di renggut dukun cabul ini.

Ki Bejo berjalan ke mejanya. dia mengambil segelas air, dia berkomat kamit. “nih, minum air ini, habiskan” katanya. Aku meminum air itu, dan setelah itu, tenagaku seperti pulih kembali. Aku segera berpakaian kembali. Dan segera pergi dari tempat itu tanpa permisi.

Semakin mobilku menjauh dari rumah Ki Bejo, aku semakin sadar. Dan Aku kembali menangis di mobilku, Aku telah menjadi korban penipuan dukun cabul.

Setibanya di rumah, aku membuka seluruh pakaianku, dan di selangkangan celana dalamku terdapat noda darah, kembali air mataku menitik. Aku segera membasuh tubuh membersihkan dari kotoran Ki Bejo.

Malam itu aku tidur dengan mata sembab. Aku tertidur karena kelelahan.

Di kAndir esok harinya, aku seperti tidak bergairah. Aku tidak dapat bekerja dengan baik. “tok tok tok, pintu ruang kAndir di ketuk seseorang. “yah, masuk aja “jawab Ku.

“maaf Riska, eh bu Riska, saya mau lihat laporan pembelian, sparepart mesin yang bulan lalu?” kata Andi. Aku menatapnya, tidak biasanya dia minta laporan pembelian. Karena memang bukan tugas dia. Tapi aku langsung mengangguk, dan mencari file pembelian.

“ini pak Andi” kataKu sambil mememberikan file itu padanya. Dia menatapku, aku merasakan kehangatan dari bola matanya. “terima kasih Bu Riska.” dia menerima file itu, lalu berjalan ke pintu. Dia berhenti sebentar, membalikan badannya lagi “eh maaf Bu Riska, apa eh.. maksud saya” katanya agak gugup.

“ada apa pak Andi, koq kayak bingung” kataku. “eh, anu, saya ada undangan pesta pernikahan teman saya, maksud saya, apa Bu Riska ada acara entar malam, apa boleh saya ajak Bu Riska ke pesta teman saya itu” katanya.

Jantung saya berdebar, kata katanya seperti lamaran buat saya, saya tersenyum, “ah Pak Andi, saya entar malam tidak ada acara” kataKu dengan perasaan berbunga bunga.

“jadi, Bu Riska, bersedia menemani saya ke pesta itu?” tanya Andi lagi. Aku menganggukan kepala. “terima kasih Bu Riska, nanti malam saya jemput yah” katanya yang tampaknya juga gembira sekali.

Saat itu aku termenung, apa semua ini, dari Ki Bejo. Apa dia benar benar begitu sakti.

Jam 5.00 sore aku sudah tiba di rumah. Begitu di kamar, aku melepas seluruh pakaianku, bercermin menatap bayang bayang tubuhku di cermin. Aku mengagumi sendiri bentuk indah tubuhKu.

Hpku berbunyi tepat pukul 5.30. Aku menerima Hp itu, dari Andi. “Bu Riska, apa sudah siap, saya sedang menuju ke sana”. “oh sudah sudah siap “jawabku, dan segera masuk ke kamar mandi, begitu pembicaraan selesai.

Tepat jam 7.00 mobil BMW Andi telah ada di depan rumahKu, aku masuk ke dalam mobilnya. Aku tersenyum dan dia juga tersenyum. Mobilnya pun berjalan pelan. Dia banyak berbicara padaKu. “Riska, apa kamu sudah punya pacar ? “tanya Andi tiba tiba
Aku mengeleng “belum, saya belum punya pacar” kataKu. Andi tersenyum, lalu berkata “Riska, kita sama sama telah berumur, jika kamu tidak keberatan, bagaimana jika kita berpacaran saja” kata Andi.

Hatiku dag dig dug, rasa senang, melanda diriku, saat itu juga aku resmi menjadi pacarAndi. Rupa undangan pernikahan itu cuma pura pura, Andi memang ingin mengajakku keluar, untuk menyatakan cintanya.

Kini di kAndir hari hariku lebih ceria. Tiga bulan sudah kita melewati masa pacaran yang penuh kebahagian. Saat malam minggu Andi mengajakku menginap di Villanya di puncak. Aku tidak keberatan, toh Andi sudah meminangku, dan orang tuaku setuju sekali. Kita tinggal menunggu hari untuk melangsungkan pesta pernikanan kita.

Di Villa itu, rasa dingin menyelimuti ku. Andi memelukku erat, memberiku rasa hangat. Bibir kami menempel erat, seakan tidak dapat lepas. Tangan Andi pun mulai menjamah buah dadaKu. Aku mulai merasakan kenikmatan dari calon suamiku.
Tangan Andi terus menyusup di balik bujuku, dan memainkan putting susuKu. Saat itu kepalaku rasanya pusing, dan tiba tiba terbayang Ki Bejo. Saat itu diriku menjadi tidak enak. Birahi agak menurun. Aku tidak suci lagi, bagaimana jika Andi tidak dapat menerima diriku.

Andi terus saja menstimulasi tubuhKu. Bajuku dilepasnya, dan kini aku sudah hampir bugil total. Andi terus menjilati buah dadaKu. Rasa birahi perlahan bangkit kembali Andi pun mulai membuka celana dalamku.

Dia sendiri membuka celananya. Aku menatap penisnya yang jauh lebih kecil dari milik Ki Bejo. Dia mendekat, dan membuka lebar kakiKu. Dia mau melakukan penetrasi. “Andi, apa tidak kita tunggu sampai menikah nanti” kataKu. Sambil mencium keningku Andi berkata “sayang, sejak aku menyatakan cintaku, aku sudah menganggap kamu istri saya sayang”.

Tiba tiba penis itu telah masuk, aku pura pura menjerit “aduh, sakit sekali Andi”. Padahal Aku tidak merasakan apa apa, aku merasa hambar. Andi terus bergoyang, dengan nafsu, penisnya bergerak dengan cepat keluar masuk.

Aku pun terus mendesah, walaupun tak merasakan apa apa. Andi terus mengoyang tubuhku. Udara dingin pegunungan itu, tidak mampu membendung peluh yang membasahi tubuhnya. Andi mengeram, dan dia melepas spermanya.

“Oh, sayang aku sangat menikmatinya” katanya sambil menciumi bibirku dengan mesra. Setelah itu Andi terbaring kelelahan, tidak lama dia tertidur.

Aku termenung di toilet, aku heran aku tidak merasakan apa apa, ada nafsu, vaginaku berlendir, tapi aku tidak dapat merasakan penis Andi. Vagina seperti mati rasa. Apa yang terjadi dengan diriku. Saat itu bayang bayang Ki Bejo membayangi diriku lagi.

Aku hanya berharap, aku terlalu tegang karena sudah tidak suci lagi.

Esoknya pagi pagi Andi telah bangun. Dia mencium keningku,” selamat pagi Riska sayang”. Aku pun tersenyum. Dan Andi sama sekali tidak menanyakan soal keperawanan ku. Ini membuatku menjadi tenang.

Setelah itu, Andi kembali mencumbuKu. Kini dengan tanpa beban, Aku dapat terangsang dan menikmati setiap sentuhannya. Tapi tetap saja aku tidak dapat merasakan penis Andi. Sama sekali mati rasa, seakan akan, penis Andi tidak ada. Dan bayang bayang Ki Bejo selalu menghampiriku. Ini membuatku sangat menderita. Andi membuat birahi yang memuncak, tapi tidak terselesaikan.

Aku tidak dapat membicarakan hal ini dengan Andi. Aku hanya dapat berpura pura menikmati permainannya.

Hari itu, aku sudah berencana, ingin menanyakan masalah ini pada Ki Bejo. Sepulang dari kAndir kembali aku memacu mobilku ke tempat Ki Bejo. Menyusuri jalan jalan berdebu, sampai tiba di rumah Ki Bejo.

“ada masalah apalagi, neng, apa ilmuKu tidak berhasil ? “tanya Ki Bejo. Aku mengutarakan kondisiku. Ki Bejo mengajak Aku ke kamarnya lagi.

Kembali kepala pening karena asap menyan yang mengepul. “sini, biar saya periksa” kata Ki Bejo. Sambil membuka bajuku juga bra Ku. Dia melihat buah dadaKu “hmm, kilihatannya normal aja”. Kemudian dia juga membuka celanaKu berikut celana dalamnya.

Sambil duduk, tangan Ki Bejo, membuka belahan vaginaKu. “Hmm, normal aja” katanya berguman. Lalu lidahnya menjulur, dan klitorisku menjadi sasarannya. nafsuku tiba tiba menjadi tinggi. “oahhh Ki, ada apa dengan kemaluan saya “desahKu.

Lidah Ki Bejo terus merangsang syaraf syaraf sensitif di vaginaKu. Lendir kenikmatanku mengalir deras. “oh Ki, enak sekali, terus Ki, enak sekali “desahku. Aku benar benar merasa gatel di klitorisku. Setelah bermain tidak terpuaskan dengan Andi, sekarang aku benar benar merasakan nikmat.

Lidah Ki Bejo aktif sekali, dan tubuhku bergetar, menerima rangsangannya. Rangsangan yang tidak ku dapati dari Andi. Sebentar saja, tubuhku bergetar hebat. Aku kejang kejang, Aku tenggelam dalam kenikmatan Ki Bejo.

Setelah membiarkan aku sebentar, kembali tangan Ki Bejo meraba raba bagian dadaKu. Putting susuku juga tidak luput menerima sensasi nikmat Ki Bejo. Birahi perlahan naik lagi. Dan tanganku juga meraba raba selangkannya. “Ki, saya mau ini” kataKu.

Ki Bejo mengeluarkan senjatanya, dan membiarkan Aku memainkannya. Tanganku seperti gemas sekali, mengocok ngocok penis besar Ki Bejo. Sampai Aku merasakan gatel di Klitorisku, dan Aku memintanya “Ki, ayo masukin aja, aku udah tidak tahan “pintaku.

Dan Ki Bejo membalikan tubuhKu. Aku tahu dia ingin memasukannya dari belakang aku langsung menungging. Aku mendesah, ketika ujung penisnya menyentuh klitoriKu Ki Bejo dengan lembut mengesek ujung penisnya di Klitorisku. Aku mendesah “ohh Ki, udah tidak tahan, masukin aja..” pintaku merengek.

Pelahan Ki Bejo mendorong masuk penisnya. Aku merasakannya, tiap tiap centi, daging itu menerobos masuk ke kemaluanku. Aku mengerang nikmat, begitu juga Ki Bejo, merasakan jepitan erat vaginaku. Tubuhnya bergerak, seiring penisnya keluar masuk vaginaku.

Aku benar benar merasakan nikmat bersetubuh, dengan seorang pria. Sebentar saja tubuhku kembali bergetar hebat. Aku menerima puncak kenikmat itu dari Ki Bejo.

Tahu, aku tengah menikmati orgasmeKu, Ki Bejo diam sesaat, lalu mulai bergerak dengan lembut. perlahan menaikan kembali birahi. dan turus mengocok dengan cepat.

Membawaku ke puncak nikmatku lagi.

Tiga kali aku di buatnya orgasme, sampai dia pun mengerang, menikmati orgasmenya di vaginaKu. Tubuhku pun menjadi lemas.

Setelah, aku berpakaian, dan merapikan pakaiaanKu. Aku kembali menanyakan masalahKu. Ki Bejo membelai rambutku, “Sudahlah, saya akan coba, membantu kamu”.

Dalam perjalan pulang, mobilku berjalan lambat. Aku berpikir, kenapa aku begitu suka permainan sex Ki Bejo. Aku sepertinya ke tagihan oleh permainannya.

Aku seperti ingin membatalkan pernikahanKu dengan Andi. Dari pada menikah, tapi bathinku tersiksa, lebih baik aku sendiri pikirKu.

Hari pernikahanku akhirnya tiba juga. Dimana Aku dan Andi menjadi raja dan ratu sehari. Andi pun telah menyediakan tempat bernaung untuk ku. Sebuah rumah yang cantik di perumah yang cukup ternama.

Pesta perkawinanku juga tergolong mewah, dengan di hadir lebih dari seribu orang, kerabat ku dan Andi, serta orang tua kami.

Malam harinya, Aku bercinta dengan Andi secara resmi. Sama seperti sebelumnya, vaginaKu mati rasa. Aku terangsang, menikmati cumbuan suamiku, tapi ketika nafsuku sudah tinggi, sewaktu Andi melakukan penetrasi, aku tidak merasakan apa apa.

Tidak ada rasa sakit dan tidak ada rasa nikmat. Sangat berbeda dengan Ki Bejo.

Setelah Andi ejakulasi, dan Aku belum apa apa, Aku berbaring saja. Hatiku gembira menerima sosok Andi sebagai suamiKu. Andi suami yang baik. Tapi Badanku menolak Andi. Badanku seperti milik Ki Bejo.

Di saat ini, sepertinya Aku ingin melarikan mobilku dengan kencang menuju rumah Ki Bejo, dan melampiaskan birahiku padanya.

Malam pengantin ini membuat hatiku bahagia, tapi badanku menangis kecewa

Entah apa yang akan terjadi besok.

Setelah melewati malam pengantin dengan kekecewaan, Aku semakin merasa jemu dengan suamiku Andi. Di lain pihak aku juga merasa kasih sayang dia. Sebagai pengantin baru, Andi sangat memeperhatikan Aku.

Andi bahkan tidak mengizinkan Aku untuk berkAndir lagi. “Mami, sekarang mami, di rumah saja, ngapain cape cape kerja,biar papi yang cari duit, mami mau berapa “begitu katanya. Teman teman ku mengatakan aku sangat beruntung dapat bersuamikan Andi.

Aku tidak tahu, perasaanku dengan Andi, hambar. Hampir tiap malam aku bercinta dengan Andi. Tiap malam pula aku kecewa. Lebih baik jika Andi tidak mengajakku bercinta. Lebih baik kita tidur saja, itu pikirku dalam hati.

Tapi tidak, Andi mencumbuku, membuatku terangsang. Aku tidak dapat menolak suamiku sendiri. Andi membuatku sangat terangsang dengan cumbuan cumbuan mesranya, tapi aku tidak dapat terpuaskan, aku tidak dapat orgasme.

Berapa lama pun Andi mengoyang vaginaku dengan penisnya, tetap Aku tidak merasakan apa apa. Seperti ada sesuatu yang menjaga vaginaku, menahan orgasmeku.

Ini membuat Aku kesal dengan Andi. Apa lagi setelah itu dia biasanya terlelap membawa kenikmatannya sendiri. Sedang Aku hanya dapat, termenung. Di saat seperti ini yang ada di bayangan sosok Ki Bejo, dengan penisnya.

Aku segera menghindar, Aku melakuan sesuatu, menonton televisi, atau apa saja. Aku tidak mau memikirkan Ki Bejo, Aku milik suamiku, aku harus setia, itu yang selalu aku tanamkan dalam diriku.

Pagi itu, setelah sarapan suami siap siap berangkat ke kAndir. Dia mencium keningku, lalu dia meremas pantatku, sambil berbisik “mami, semalam goyangan papi hebat tidak?”. Aku tersenyum “hebat pi, hebat “jawabku. “entar malam papi goyang lagi yah” katanya. Aku hanya mengangguk, dalam hatiku lebih baik tidak usah bercinta.

Apa aku harus hidup dalam kepura puraan. Kenapa vaginaku tidak dapat menerima penisnya. Kenapa mati rasa, kenapa. Ki Bejo, apa yang kau lakukan terhadap diriku ?

Setelah Aku mandi, Aku berencana akan ke Dr Genekolog (ahli kebidanan ). Aku tidak mau lagi ke Ki Bejo. Aku mau yang logic pikirku.

“yah selamat siang, ada masalah apa “tanya Dokter itu. “begini dok, saya tidak dapat merasakan penis suami saya” kata saya. Dokter itu tersenyum “maksud ibu, tidak dapat terangsang ? “tanya Dokter itu lagi.

“bukan, saya terangsang, bahkan sangat terangsang, tapi waktu suami saya mulai, vagina saya mati rasa, tidak merasakan penis suami saya..” kata saya. “tidak merasakan penis.. hmmm hmm “Dokter itu berguman sendiri.

“jika ibu menyentuh vagina ibu, apa ibu merasakannya ? “tanya Dokter itu lagi. Aku menatap Dokter itu, sepertinya dia tidak percaya pada cerita saya, sepertinya saya mengada ada. “tentu saja, saya dapat merasakan jari saya Dokter” kata saya.

Dokter itu mangut mangut “jadi ibu dapat merasakan jari ibu di vagina ibu, tapi tidak dapat merasakan penis suami ibu di vagina ibu”. Intonasi nya seperti mengejek. Aku menatap Dokter itu lagi, “saya sungguh sungguh Dokter, saya tidak bercanda”.

“oh, maaf bukan begitu maksud saya, saya baru kali ini mendapat kasus seperti ini” kata Dokter itu. Aku diam. “Ok, begini, ibu silakan berbaring, saya coba periksa” kata Dokter itu kemudian.

Aku menurutinya, aku berbaring. “maaf Bu, saya harus memeriksa vagina Ibu” kata Dokter itu. Aku mengerti, aku melepas celana dalam ku. Dokter itu mulai memakai sarung tangan karetnya. Dia mulai memeriksa vaginaku.

Dia membuka bibir vaginaku, lalu jarinya di masukan ke vaginaku. Sebentar kemudian dia mencabut jarinya. “Ibu, dapat merasakan jari saya “tanya Dokter itu. “ya, dapat Dok” kataKu. “saya, rasa vagina ibu normal normal saja, mungkin ini hanya pskologis saja, karena ibu kan pengantin baru” kata Dokter itu.

“maksud Dokter saya steress” kata saya. “yah mungkin” kata Dokter itu. Aku benar benar tidak puas atas jawaban Dokter ini.

Tiba tiba, aku melihat tubuh Dokter itu mengejang. Kemudian dia bengong sebentar. “Dok, kenapa ?’ tanya saya keheranan melihat tingkahnya. “oh tidak apa apa” katanya.

“Coba saya periksa sekali lagi, untuk lebih jelasnya” kata Dokter itu. Dia melepas sarung tangan karetnya. Lalu jarinya membuka bibir kemaluan saya. Jarinya memainkan klitoris saya. Sekarang saya merasakan sesuatu yang lain.

Jari jarinya terus memainkan klitoris saya, saya mengigit bibir saya, lendir saya mulai merembes keluar liang vagina saya. Dengan adanya lendir saya, jari jari itu lebih terasa, di klitorisku yang makin membesar. Bibir vaginaku juga terasa menebal akibat rangsangan nikmat yang di beri Dokter itu. Sensasi ini, seperti yang di berikan Ki Bejo.

Semakin lama diriku makin terhanyut, mataku terpejam, tanganku mencengkram pingir ranjang praktek dokter itu. “bagaimana, bu apa ibu, dapat merasakan nikmatnya” kata Dokter itu. “hmm, haa, hmm “hanya itu suara yang keluar dari mulutku.

Lidah Dokter itu juga menjilati vaginaku. Tubuhku mengeliat, kenikmatan, lendir yang keluar liang vaginaku semakin menjadi. Tubuhku terus gemetar “ohh, Dokter saya merasakan, ahh, ahhh, nikmat.. saya tidak tahan, ahhh”. Lidah Dokter itu terus mengaduk aduk vaginaku.

Tubuhku mengeliat, dan akhirnya menegang kejang, Aku menerima orgasme yang aku rindukan selama ini. “Lihat, vagina anda normal saja kan” kata Dokter itu.

“Sekarang saya akan periksa t-e-t-e ibu yah” kata Dokter itu yang tanpa permisi membuka bajuku. Buah dadaku di remas remas, dan putting susuku di mainkan sesuka dia. Tubuhku mengelinjing, kenikmatan. Lidahnya juga menjilati putting susuku.

“ahh, Dokter, saya nafsu sekali, isep pentil saya dong..” pintaku dengan tidak malu malu. Dokter itu juga sangat bernafsu dengan tubuhku. Dia menyedot putting susuku, dengan nafsu. Aku benar benar nikmat, dan mulutku terus mengerang ngerang, kenikmatan.

Puas bermain dengan buah dadaku, Dokter itu menyodorkan penisnya ke mulutku. Penis yang sebesar penis suamiku itu aku kulum dengan nafsu. Aku menyedot nyedot, mengocok, dan terus membuat Dokter itu mengerang kenikmatan.

Dokter itu terus mengocok penisnya di mulutku, maju mundur dengan cepat, sampai aku merasakan penis itu diam, dan mulutku penuh dengan spemarnya. Dia mencabut penisnya yang telah layu itu keluar dari mulutku.
Dia berjalan, dan memegang kakiku, lalu membuka kakiku selebar mungkin. Wajahnya sepertinya berubah, Dokter itu menjadi sangar. Penisnya dengan begitu cepat telah menegang kembali.

Dan dia mulai melesakkan penisnya masuk ke vaginaku. Aku merasakan penisnya memenuhi relung relung di dalam vaginaku. Aku merasakan penisnya besar sekali. Padahal tadi jelas jelas, aku melihat penisnya hanya sebesar penis suamiku.

Aku merasa nikmat yang luar biasa, aku mengerang. Aku mendesah, tubuhku terus mengeliat, pinggulku bergoyang, seirama desakkan penis Dokter itu. Aku terus mendesah. tidak lama tubuhku, menegang “ohhh gatel, aku keluarrr”.

Tanpa memberiku waktu, untuk menikmati orgasme, Dokter itu terus mengoyang tubuhku. Aku mengelijing, ngilu. Sebentar kemudian, dengan aktifnya penis Dokter itu yang terus mengesek dinding vaginaku, nafsu ku bangkit lagi.

Lima menit berikutnya aku mencapai puncak kenikmatan kembali. Hampir tiap lima menit rasanya tubuhku mengejang, merasakan puncak nikmatku. Entah berapa kali, aku berorgasme, sampai Dokter itu melepas spermanya di dalam liang vaginaku.

Setelah Dokter itu melepas, batang penisnya dari liang vaginaku. Aku kembali mengenakan pakaianku. “nah, bagaimana, berasakan, berarti anda memang suka sama penis orang lain” kata Dokter itu. “ha, apa maksudnya Dokter?” tanyaku.

“yah, kamu memang tipe istri yang suka selingkuh, kamu doyan n-g-e-n-t-o-t sama orang lain ha.. ha.. ha.. “ejekan Dokter itu membuat panas hatiku. Aku segera keluar dari ruang praktik Dokter itu, dan langsung berlari pulang.

Di rumah, aku menangis, hatiku pedih, baru kali ini aku di rendahkan orang seperti itu. Tapi aku juga merasakan nikmat yang luar biasa, yang di berikan Dokter itu. Aku memenuhi bathtub ku dengan air hangat, lalu aku berendam. Aku memejamkan mata, aku lebih merasa bersalah terhadap suamiku sekarang. Apa kata kata dokter itu benar.

Sensor hindungku seperti menangkap bau menyan. Aku membuka mataku, tidak ada apa, hanya imajinasiku saja pikirku. Kembali aku menenangkan diri, air hangat ini membuat otot otot ku menjadi rilex.

Tida tiba, aku merasa seperti ada yang mengelitik vaginaku. Aku langsung berdiri, memegang vaginaku, aku tidak menemukan sesuatu, bulu kudukku sontak berdiri. Apa apa ini. Tida tiba tubuhku kaku, aku tidak dapat mengerakan anggota tubuhku, bibirku terkunci, aku seperti patung.

Dalam keadaan tegang itu, aku merasa jelas sekali seperti ada sosok yang tidak nampak mata sedang merabai vaginaku. Benda seperti jari jari tangan itu menyelinap masuk ke tubuhku, bermain di dalam liangku. Anehnya, aku merasakan sensasi nikmat yang luar biasa. Dalam keadaan tubuh yang kaku, lendir kenikmatan ku keluar begitu saja.

Semua organ sex ku, menjadi sangat terangsang. Aku benar benar nikmat, samapi tidak dapat menahan kenikmatan itu, tiba tiba tubuhku terbebas dari ke-kaku-annya, tubuhku bergetar hebat, “ohhhh ahhhhh”.

Tubuhku terjatuh dalam bathtub, terpeleset, rebah. Kini tubuh kembali merasakan air hangat di bathtubku. Mataku terasa berat sekali, rasa ngantuk menyerangku, aku seperti melayang, dalam setengah sadar aku mendenga suara yang ku kenal, sayup sayup Ki Bejo berkata “bagai mana Riska, apa kau merasa nikmat dengan permainanan ku tadi, kau memang istri yang suka selingkuh ha.. ha..ha.. “

“mami, mami..”. Aku merasa tubuhku di goyang, di bangunkan, aku membuka mataku, aku melihat suami dengan wajahnya yang kawatir. “mami, kamu kenapa sayang, ayo bangun,” kata suamiku menarik tanganku.

Tapi tubuh seakan lemas tidak bertulang, “papi.. mami sakit, pusing…” suaraku lemah. Suamiku langsung mengendongku, membawaku ke kamar, dan memaringkan tubuhku di ranjang.. Tubuh tidak dapat bergerak, suaraku sesak, tapi kesadaranku tetap tinggi. Bola mataku dapat melihat jelas, wajah kawatir suamiku.

Tangannya sibuk menekan tombol Hp nya. Dia menelpon Dokter Benny, dokter keluarganya. Selagi menunggu ke datangan Dokter Benny suami saya dengan penuh kasih sayang, membelai rambutku, dia mencium keningku.

Hatiku menjerit, Andi maafkan diriku. Setelah Dokter Benny tiba, tubuh langsung di periksa. “bagaiman dok, apa istri saya kena stroke ? “tanya suamiku dengan cemas.

“tekanan darah normal, detak jantung juga normal, tidak ada tanda tanda stroke” kata Dokter Benny.

“lalu apa, penyakitnya Dok ? “tanya suamiku. Dokter Benny tampak bingung juga, dia berkata “Untuk sememtara, saya menguda istri anda ke lelahan”. Suami tampak tidak puas dengan jawaban Dokter Benny. “begini saja, saya akan memberi resep, kita lihat besok, jika tidak ada perubahan, bawa istri kamu ke rumah sakit” kata Dokter Benny.

Besoknya Aku di bawa suamiku ke rumah sakit, Tubuhku masih lemas, tapi aku sudah dapat mengerakkan anggota tubuhku. Dari hasil pemeriksaan USG, dan hasil tes Lab, tubuhku normal saja. Ini yang membuat suamiku bingung.

Aku tahu penyakitku, aku tahu penyebabnya Ki Bejo, dia menginginkan kehangatan tubuhku, dia tidak mau melepaskan tubuhku. Dalam keadaan setengah sadar di bathtub beberapa hari yang lalu, aku seperti berbicara dengan Ki Bejo.

Ada semacam telepati, Ki Bejo menginginkan tubuhku, dan Dialah yang membuat tubuhku suka dengannya. Walaupun jiwaku, hatiku tidak sudi.. Tapi tubuh menginginkan Ki Bejo. Dia tidak akan melepaskan tubuhku.

“Mami, tadi Lia menyarankan membawa kamu ke orang pintar, dia ada kenal namanya Ki Bejo” kata suamiku. Kepalaku seperti di pukul palu besar. “papi, masa sih, papi percaya sama, dukun” kataku. “jika memang dapat menyembuhkan mami, apa salahnya dukun” kata suamiku lagi. “tidak mau” kataku.

Selagi suami saya mandi, saya menelpon Lia. “Lia eleo gila yah, kenapa kasih tau Andi masalah Ki Bejo?”. “tenang Riska, aku tidak bilang ekamu dapet jodoh dari Ki Bejo koq ““eleo tidak tahu yah, aku di..” aku menghentikan kata kataku.

Aku tidak pernah menceritakan tentang hubungan ku dengan Ki Bejo. jika aku bicara takutnya akan menjadi bumerang unutuk ku. Riska pun bertanya “tahu apa ?, kamu kan dapet Andi dari dia, kenapa tidak minta tolong sama dia?”. Aku menarik nafas “yah sudah deh” kataku langsung memutus hubungan telepon itu.

Keesokan harinya, tanpa ku ketahui suamiku, pulang dengan membawa Ki Bejo.

“mami, itu aku bawa Ki Bejo, dia akan mencoba mengobati kamu” kata suamiku. “ha, Ki Bejo, aku tidak mau, aku tidak percaya dukun” kataku protes. “sudalah mi, di cobakan tidak ada salahnya” kata suami merayuku. Benar benar Ki Bejoo tidak mau melepaskan diriku.

Aku mengalah, dan suamiku membawa Ki Bejo masuk ke kamarku. Ki Bejo tersenyum melihatku, aku memandang rendah dirinya. “saya akan periksa istri bapak” kata Ki Bejo kepada suamiku. “silakan pak” kata suamiku.

Ki Bejo memegang tanganku. sambil mulutnya berkomat kamit. “wah, istri anda di ikuti barang halus” kata Ki Bejo. “wah, dapat di tolong Ki?” tanya suamiku. “oh ini hal mudah..” kata Ki Bejo.

“saya minta berdua dengan istri anda, selama pengobatan tidak boleh ada yang ganggu jika konsentrasi saya terganggu jiwa istri anda akan terancam, mengerti” kata Ki Bejo.

“saya mengerti Ki” kata suami saya tanpa curiga.

“mami, saya tinggal dulu yah, biar lah kita kasih kesempatan sama ki Bejo” kata suamiku. Aku diam saja, mau bilang tidak rasanya tidak mungkin.

Setelah suami meninggalkan kamar, Ki Bejo langsung mengunci pintu kamarku. Aku benar benar tidak dapat apa apa, kini aku harus ditiduri Ki Bejo di ranjang ku dan suamiku sendiri.

Ki Bejo mendekat, Aku melotot “jangan macam macam, aku akan teriak “ancamku.

“kau lupa yah, dari siapa kau mendapat suamimu” kata Ki Bejo sambil membuka celananya. Penisnya yang besar mengacung tepat di wajahku. Setelah melihat penisnya tubuh seketika mendapat tenaga extra. Aku seperti tidak dapat mengatur tubuhku.

Aku meraih batang penisnya tegak itu, memainkan dengan nafsu. Lalu aku membuka mulutku lebar lebar, dan aku mengulum penisnya. Penis itu aku sedoot sedot, sepreti anak kecil yang mengharapkan susu dari ibunya..

Ki Bejo memegang kepalaku, dan terus mengocok batang penisnya di mulutku. Kira kira lima belas menit, Ki Bejo memuntahkan spermanya dalam mulutku. Bagai orang ke hausan air maninya aku telan. Rasanya kerongkongan ku dingin dan suara serak ku hilang.

Ki Bejo pun tanpa segan memreteli pakaianku satu persatu. kini dengan senyum penuh nafsu Ki Bejo menatap tubuhku, yang hanya memakai celana dalam pink. Lidahnya terus membangkitkan nafsu birahiku di seputar buah dadaku. Aku tidak dapat apa apa, aku seperti wanita haus belaian sex, dari Ki Bejo.

Klitorisku rasanya mulai gatel, lendir pun mulai membasahi selangkangan celana dalamku. Sambil terus menjilati buah dadaku dengan nafsu jarinyapun bermain di selangkangan celana dalamku. Tanpa sadar, aku melebarkan kakiku sendir, sehingga jari Ki Bejo leluasa memainkan selangkangan celana dalamku.

Sentuhan jari Ki Bejo sangat terasa menembus celana dalamku. Lendir terus membasahi celana dalamku. Klitorisku makin terasa gatel. Aku mulai tidak tahan, aku mendesah pelan “shhh, Ki aku tidak tahan..”. Ki Bejo terus memainkan tubuhku “yah, Riska, akuilah kamu membutuhkan diriku, kamu membutuhkan kepuasan dariku “

Aku mengerang erang kenikmatan “yah Ki, aku butuh, aku mau Ki.. aku mau..”. Jari Ki Bejo makin cepat, bergetar di selangkangan celana dalamku, yang kian basah. Tubuhku melengkung, aku mencapai puncak birahi.

Tanpa melepas celana dalamku, Ki Bejo memasukan penisnya dengan menyingkap celana dalamku ke samping. “ahhh.. Ki…”. “kamu suka Riska..” kata ki Bejo setelah seluruh batang penis besarnya menancap di liang sagamaKu. “oh Ki, saya suka. ayo goyang Ki “pintaku.

Ki Bejo pun bergerak, maju dan mundur, penisnya yang besar itu merodok liang vaginaku dengan nafu yang tinggi. Aku mendesah desah, nikmatnya tidak dapat kubayangkan. Gesekkan penis besarnya, membuat klitorisku menjadi membengkak. karena nikmat.

Ki Bejo terus mengoyang liang vaginaku, aku benar benar di buatnya melayang, tidak lama tubuhku mengejang, mencapai puncak birahiku. Beberapa kali aku mencapai puncakku, sampai Ki Bejo juga menyumburkan spermanya di liangku.

Setelah batang penisnya tercabut, Ki Bejo merapikan celana dalamku, dan dia membiarkan spermanya di dalam liang vaginaku. Aku sama sekali tidak keberatan. Anehnya aku malah merasakan vaginaku menjadi sensitif.

Tubuhku kembali normal seperti sediakala. Malah terasa lebih sehat. Ki Bejo menyuruhku berpakaian kembali lalu dia memanggil suamiku.

“Lihat istri anda telah sembuh” kata Ki Bejo. Suamiku menghampiri diriku “wah, bagaimana Mi, apa sudah mendingan”. “yah, aku jauh lebih baik “jawabku.

Suamiku pun mengucapkan terima kasih pada Ki Bejo.

“Begini, sekarang istri anda telah sembuh, tapi mahluk halus yang berhasil saya keluarkan dari tubuh istri anda, dapat balik lagi” kata Ki Bejo. “wah jadi bagaimana Ki ? “tanya suami saya. “yah, saya harus menjaganya untuk beberapa waktu, di sini” kata Ki Bejo.

“oh terima kasih Ki, KI Bejo dapat tinggal di kamar atas, khusus buat tamu kata suamiku. “baiklah” kata Ki Bejo.

Kemudian mereka ke luar dari kamar ku, dan suamiku membawa Ki Bejo ke kamar atas.

Tanganku menyelinap ke balik celana dalamku, meraba vaginaku yang basah oleh sperma Ki Bejo, meraba klitorisku sendiri, dan merasa nikmat.

Melihat kondisi tubuhku yang sudah pulih kembali, suamiku tampak gembira sekali.

Malam itu dia mencumbuku, sudah seminggu ini aku tidak dapat melayaninya. Malam ini suamiku menagih. Aku bercumbu hingga terangsang tinggi.

Tapi tetap saja, setelah penis itu dalam vaginaku aku tidak merasakannya. Suamiku mendesah kenikmatan, memuji muji betapa nikmat liang vaginaku, sedang aku sendiri tidak pernah merasakan nikmatnya penis suamiku.

Akhirnya suamiku mencapai puncak kenimatannya. dangan menyiram banyak sperma di rahimku.Aku hanya tersenyum. tidak lama suami yang kelelahan itu telah terlelap.

Kakiku langsung melangkah kecil, perlahan gagang pintu kamarku aku buka, aku berjalan mengendap endap ke kamar atas.

Ki Bejo, seperti sudah tahu, dia sudah bersiap siap. Aku melepas gaun tidurku.” katakan apa yang ada di hatimu” kata Ki Bejo. “Ki, puaskan diriku, aku ingin Ki “pintaku.

Ki Bejo merangkul diriku, menyuruh aku menunging, penisnya yang telah siap itu, di masukan dari belakang. “heemm” kata dengan desah yang ku tahan. “Riska, menjeritlah, betapa keras jeritan mu suamimu tidak akan bangun ha ha ha” kata Ki Bejo

Penis itu terus mengesek dinding vaginaku, aku menjerit, mengerang nikmat. Samapi aku benar benar merasa puas.

Setelah nafsuku terpuaskan, aku segera mengenakan pakaianku kembali. “Ki Bejo, apa Ki Bejo dapat mengemudikan mobil?” tanyaku. Ki Bejo tersenyum, sambil dia mengelus elus punggungku.

Aku berjalan menurunin tangga rumahku, dan kembali ke kamar tidurku. Kali ini aku tertidur dengan membawa kenikmatanku.

Esok pagi tubuhku terasa segar sekali. wajahku juga berseri seri. “mami, wah mami benar benar sudah sehat sekarang” kata suamiku. Aku memeluknya, dan mencium suamiku.

“pi, bagaimana jika Ki Bejo, kita jadikan sopir pribadi, Ki Bejo sudah setuju tuh” kataKu. “Oh, jika dia mau tentu saja boleh” kata suamiku. Cerita Ngentot Memek Perawanku Digoyang Penis Dukun Cabul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *